Jumat, 25 Januari 2013

HIKMAH DI BALIK IDUL QURBAN Oleh: Dr. Djoko Hartono, S. Ag, M.Ag, MM


Setiap tahun kita sebagai umat Islam senantiasa memperingati hari raya Idul Adha yang sering pula disebut hari raya haji, hari raya besar, dan hari raya qurban. Namun demikian sudahkah kita sebagai umat Islam mampu mengambil hikmah dibalik semua itu, atau kita hanya merayakannya sebatas ritual lahiriyah tanpa menyentuh subtansi dan hikmah dari kejadian besar yang dikenang dan dirayakan umat Islam sepanjang zaman ini.
Sedikitnya ada 4 hikmah yang bisa kita ambil pelajaran yang selanjutnya diharapkan mampu merubah sikap, perilaku dan kompetensi kita sebagai umat Islam dalam kehidupan ini. Bertitik tolak dari semua ini maka umat Islam akan menjadi manusia ideal, sempurna yang tidak termarginalkan, bermartabat tinggi yang mampu memberikan kontribusi serta  manfaat besar pada zamannya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.
Adapun 4 hikmah yang bisa kita petik dalam hari raya Qurban ini yaitu:
Pertama, Pengekangan/pengendalian nafsu
Memperingati hari raya qurban ini mengingatkan kita kepada peristiwa besar yang terjadi dan menimpa pada tiga sosok manusia pilihan Allah yang patut dijadikan figure untuk diteladanani. Hal ini sangat beralasan karena anak turun manusia pilihan Allah ini, dikemudian hari banyak yang  menjadi Nabi dan Rasul Allah. Selain itu syariat ajarannya banyak pula dilakukan dan dilanggengkan Nabi Muhammad Saw, salah satu di antaranya yakni ritual ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban seperti pada hari raya kali ini.
Tatkala penyembelihan hewan qurban ini dilakukan sudahkah kita merenung sambil bertakbir, bertahlil, bertahmid apa yang bisa kita ambil hikmah darinya. Paling tidak kita seharusnya merenungkan diri, sesungguhnya kita ini adalah manusia yang juga memiliki sifat hewaniyah. Hanya yang membedakan kita dari pada hewan itu adalah manusia diberi akal fikiran oleh Allah. Kalaulah akal kita tidak kita fungsikan dengan baik tentu kita akan seperti hewan itu juga. Untuk itu ahli mantiq mengatakan, al-insanu hayawanun nathiqun. Manusia adalah hewan yang berakal.
Bertitik tolak dari peristiwa besar ini maka kita hendaknya menyadari sifat hewaniyah yang ada dalam diri kita hendaknya mampu kita kekang, kendalikan bahkan disembelih. Karena kalau kita tidak mampu melakukannya, sifat tersebut akan berubah menjadi hawa nafsu, selanjutnya menggerakkan seseorang menjadi senang melakukan syahwat dan ghodhob. Dalam kondisi seperti ini maka menyebabkan diri seseorang menjadi jauh dari Allah. Bukankan Allah telah mengingatkan kita melalui statement Nabi Yusuf yang diabadikan dalam QS. Yusuf: 53. Artinya, “Dan aku tidak membiarkan nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu akan mengajak berbuat keburukan, kecuali jika mendapat rahmat dari Tuhanku…” Nafsu inilah kemudian dinamakan nafsu amarah bissu’.
Menyimak firman Allah di atas, sesungguhnya ada beberapa hal yang bisa kita ambil pelajaran yakni dalam diri manusia ada dua potensi baik dan buruk; Allah memberi kebebasan pada manusia untuk memilih baik atau buruk; nafsu harus dikendalikan; untuk mengendalikan nafsu ini harus ada upaya dari manusia itu sendiri disertai memohon kekuatan dan pertolongan dari Allah.
Untuk itu dalam kitab “Ajaibul Qulub” Al-Ghozali menerangkan bahwa tatkala seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya hingga hatinya bersih dari segala sesuatu selain Allah maka syahwat-nya berubah menjadi daya kemauan (irodah) dan ghodhob-nya berubah menjadi daya kemampuan (qudroh). Dalam kondisi seperti ini maka seseorang menjadi memiliki kekuatan dan menjadi termotivasi serta mampu untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan di dunia ini yang semata-mata hanya mengharap keridhoan Allah. Orang-orang seperti ini merupakan kelompok yang mendapat rahmat dari Allah. Mereka ini menurut Ibnu Khaldun menjadi mampu mencapai tingkat ketuhanan, dekat dan makrifat kepada Allah sebab daya-daya yang muncul dalam dirinya tidak berakhir pada tingkat kemanusian saja. Dengan energy (Nur)-NYa kelompok ini menjadi sholih social dan ruhaninya melambung hingga bertemu dengan Allah.
Dengan demikian tidak salah kalau Allah memerintah Ibrahim As agar menyembelih anaknya. Suatu ujian yang amat berat dan besar tentunya. Hal ini karena Allah ingin menguji kecintaan Ibrahim As antara cinta kepada anak atau Tuhannya. Allah tidak ingin hati Ibrahim As Khalilullah yang semula hanya diperuntukkan Allah, menjadi bergeser kepada anaknya dan kemudian menjadi melupakan serta jauh dari Allah.

Kedua, Pendidikan anak dalam keluarga
Nabi Ibrahim As, putranya Ismail As dan Hajar sebagai istri Nabi Ibrahim As dan Ibu Ismail As mereka sejatinya sosok figur manusia yang dipilih Allah untuk dijadikan teladan. Mengapa tidak, Ibrahim As dan Ibu Hajar ternyata telah sukses melakukan pendidikan dalam keluarga. Mereka berdua mampu menghantarkan putranya Ismail As menjadi anak sholih dan Nabi serta Rasulullah. Sebuah derajat yang mulia baik di hadapan Allah maupun manusia.
Keberhasilan Ibrahim As dan Istrinya dalam mendidik anaknya dapat dilihat dari indikator yang ditunjukkan Ismail kecil waktu itu yakni ketaatannya kepada orang tuanya,  kedewasaan dalam bersikap dan memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menerima ketentuan Allah. Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah QS. Ash-Shafat: 102.
Artinya, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia (Ismail) menjawab, Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Apa sebenarnya yang dilakukan Ibrahim As hingga dikarunia anak yang membanggakan ini. Kalau kita lihat dalam QS. Ash-Shaffat: 100, ternyata Nabi Ibrahim As tidak meninggalkan berdoa kepada Allah agar dikarunia anak yang shalih dan itu dilakukan bertahun-tahun tidak pernah putuh asa. Selanjutnya terwujudnya anak yang shalih ini karena tidak lepas dari pendidikan yang dikembangkan orang tua. Seorang ibu sangat besar andilnya dalam pendidikan anak dalam keluarga. Seorang anak yang lebih dekat dan banyak bersentuhan dengan ibunya, sangat efektif digunakan seorang ibu menanamkan nilai-nilai yang baik hingga terbentuklah dalam diri anak sikap dan kepribadian yang luhur serta karakter yang mulia. Itulah yang dilakukan Ibu Hajar tatkala ditinggal Ibrahim berdakwa dalam waktu yang lama.
Selain itu lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukkan karakter anak agar menjadi pribadi yang membanggakan. Di tengah padang pasir yang gersang nan panas Ismail berada, dididik dan dibesarkan. LIngkungan seperti ini tentu akan menjadi faktor yang turun membentuk karakter anak hingga memiliki kepribadian yang independen, dewasa dan sabar. Bung Hatta mengatakan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sulit akan berpengaruh terhadap kecepatan tingkat kedewasaannya. Imam Syafi’I juga mengatakan tidak ada yang lebih menandingi kebahagian seseorang yang berhasil belajar tatkala ia dalam keadaan kesusahan dan kekurangan.
Demikian pula ketika kita cermati QS. Ash-Shafat: 102 ternyata Ibrahim AS dalam mendidik putranya menempatkan sebagai subjek pendidikan bukan sebaliknya sebagai objek. Ismail di posisikan sejajar dengan orang tuanya, dimintai pendapat, diajak dialog dan diskusi serta dirangsang kreativitas berfikirnya. Suatu model pendekatan pembelajaran dalam keluarga yang patut kita contoh lebih-lebih bagi kita yang hidup di era keterbukaan ini.
Itulah sebenarnya yang dilakukan Ibrahim As dan Istrinya dalam mendidik putranya Ismail hingga kemudian menjadi putra yang shalih. Putra yang tidak menyebabkan orang tua menjadi lupa mengingat Allah, putra yang tidak menjadi musuh dan fitnah bagi orang tuanya. Bukankah Allah telah berfirman:
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi”. (Qs. Munafiqun: 9)
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. At-Taghobun: 14)
Artinya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan/fitnah (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (Qs. At-Taghobun: 15)



Ketiga, Peningkatan ekonomi untuk ibadah
Nabi Ibrahim As yang menjadi subjek kajian kali ini cukup menjadi tauladan umat Islam yang sedang merayakan hari raya qurban. Ibrahim As ternyata merupakan sosok figure yang kaya tetapi tidak menjadi orang yang hanya menumpuk-numpuk hartanya. Tatkala ia berqurban tidak hanya cukup dengan seekor kambing. Ibrahim As dalam menyembelih hewan qurban hingga mencapai 1000 ekor kambing, 300 kerbau/sapi, 100 onta. Harta kekayaannya tidak menghalangi dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan memang seperti itulah yang diharapkan. Ibrahim As senantiasa membersihkan hatinya dari segala sesuatu selain Allah. Sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah, sampai-sampai Ibrahim As sempat mengucapkan sesuatu (nadzar) tatkala melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Jangankan hewan sebanyak itu jika Allah mengarunianya anak dan anak itu diperintahkan untuk menyembelih maka perintah itu akan ia lakukan. Hingga pada akhirnya apa yang ia nadzarkan itu menjadi kenyataan, sebagai ujian yang besar dan nyata dalam kehidupan Ibrahim As seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Dalam rangka menteladani Ibrahim As,  pada hari raya qurban yang kita rayakan setiap tahun ini cukup menjadi inspirasi sekaligus menuntut agar umat Islam menata ulang dan memperbaiki diri agar memiliki tingkat perekonomian yang mapan. Mengapa tidak, hal ini karena untuk bisa menjadi muslim yang mampu menyembelih hewan qurban maka kita harus menyiapkan sebagaian harta dari hasil pekerjaan yang kita lakukan selama ini. Merekalah orang yang memiliki tingkat ekonomi yang baik.
Bukankah Allah telah mengingatkan agar umat Islam mencari bekal akhirat dengan tidak melupakan kehidupan di dunia ini. Untuk itu kita dituntut menjadi muslim yang giat bekerja guna mendapatkan rizki. Selanjutnya harta yang kita miliki itu hendaknya dapat kita jadikan  sebagai bekal untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan memiliki rizki yang cukup maka seorang muslim akan mampu membeli hewan qurban yang kemudian disembelih karena semata-mata menjalankan ketentuan Allah.
Dalam hal menyembeli hewan qurban ini Sayyidina Ali karramallah wajhah pernah mengatakan bahwa, tatkala seorang muslim keluar rumah hendak beli hewan qurban maka ia mendapat 10 pahala dari Allah, dapat menebus 10 dosa dan tiap langkahnya mengangkat 10 derajat. Saat ia melakukan tawar menawar maka ucapannya menjadi tasbih. Ketika ia membayar maka setiap rupiahnya Allah membalas dengan 700 pahala. Tatkala ia meletakkan hewan qurban untuk disembelih maka beristighfarlah semua makhluk hingga lapisan bumi ketujuh. Setiap suap daging yang dimakan setelah dibagikan menyebabkan Allah memberikan pahala bagi orang yang qurban seperti memerdekakan hamba. Selanjutnya Nabi Saw juga bersabda bahwa setiap darah yang menetes dari hewan qurban yang disembelih menyebabkan Allah mengampuni dosa orang yang berqurban. Dalam riwayat yang lain beliau juga menjelaskan bahwa tiap binatang qurban nantinya akan menjadi kendaraan di sorga. (Azh-zhiimuu dhohaayaakum fa innahaa alaa ash-shiroothi mathooyaakum).

Keempat, Kepedulian social
Allah menciptakan manusia sesungguhnya mempunyai tujuan yakni agar mengabdi kepada-Nya dan menjadi khalifah di muka bumi ini. Untuk itu selain sebagai makhluk religious, manusia juga disebut makhluk social. Hal ini karena dalam hidup di muka bumi ini, manusia tidak bisa hidup tanpa interaksi dengan yang lain. Tatkala kita melakukan interaksi dengan sesama dalam rangka menjalankan perintah Allah maka di sini ada nilai ibadah. Sebagai seorang muslim seperti disinggung dalam uraian di atas, kita dituntut untuk menjadi muslim yang tidak hanya shalih secara individu. Dalam kehidupan di muka bumi ini Islam mengajarkan agar kita juga menjadi muslim yang shalih secara social.
Kenyataan ini bisa kita lihat bahwa Islam mengajarkan agar mereka yang diberi kelebihan oleh Allah dengan rizki agar mau membeli hewan qurban untuk disembelih dan selanjutnya dibagi-bagikan kepada sesamanya. Jika di antara kita diberi kemampuan akan tetapi tidak mau melakukan hal tersebut maka Rasulullah Saw membencinya. Secara eksplisit beliau membenci kelompok ini agar tidak mendekati tempat shalatnya.
Untuk itu hikmah yang bisa kita petik dari hari raya qurban ini sejatinya mengajarkan umat Islam agar menjadi perduli akan kehidupan social kemasyarakatan, melarang menjadi umat yang egois dan menumpuk-numpuk harta kekayaan yang hanya untuk kepentingan pribadi. Bukankah Allah telah mengingatkan dalam firmannya bahwa, semua akan dipertanyakan oleh Allah untuk apa kenikmatan yang telah diberikan-Nya di dunia ini. (At-Takatsur: 8). Allah juga mengingatkan bagi mereka yang suka menumpuk-numpuk harta dan menghitung-hitung harta kekayaannya itu. Pada hal harta bendanya itu tidak bisa mengekalkannya. Bahkan bisa melemparkan dirinya ke dalam api neraka. (Qs. Al-Humazah: 1-9).
Semoga seklumit uraian hikmah idul qurban ini disertai hidayah Allah dan kita dapat mengambil hikmah dari padanya serta mampu mengamalkan dan mewujudkannya dalam kehidupan di muka bumi ini. Senjutnya kita menjadi hamba Allah yang mampu mengekang/mengendalikan hawa nafsu kita, menjadi orang tua yang bijak dalam mendidik anak-anak dan menjadi anak-anak yang shalih, menjadi umat Islam yang mampu memperbaiki ekonomi dan tidak menumpuk-numpuk harta kekayaan saja serta menjadi umat Islam yang tidak hanya shalih secara individual tetapi juga shalih secara social.


Penulis:
Dr. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, MM
Dosen STAI Al-Khoziny Buduran Sidoarjo



0 komentar:

Poskan Komentar