Selasa, 22 Januari 2013

Pilar Kebangkitan Umat Oleh : Dr. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, MM


Beberapa tahun yang silam, mantan pengurus PBNU KH. Dr. Hasyim Muzadi pernah berdialog dan menginformasikan pernah bertemu dengan pemimpin spiritual di Vatikan Paus Paulus. Pak Paus ini menanyakan kabar umat Islam di Indonesia. Dengan diplomatis maka Kyai menjawab, oh..baik dan kalau ingin melihat kondisi umat Islam Indonesia maka Pak Paus silahkan datang dan melihat pada saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Apa yang dikatakan Pak Kyai ini sesungguhnya ingin menjunjukkan segi kuantitas umat Islam di negeri kita. Namun bila kita ingin mengetahui kualitasnya jawabannya tentu lain dan kita bisa melihat gambarannya ketika shalat shubuh berjama’ah.
            Sepanjang yang saya ketahui baik di masjid besar, sedang, kecil, mushalla, langgar, yang namanya jama’ah shalat shubuh paling banyak hanya dua shaf bahkan terkadang satu shaf saja tidak penuh. Inilah sesungguhnya gambaran kondisi jumlah kualitas umat Islam di Indonesia. Untuk itu jangan salahkan kalau umat Islam selalu dimarginalkan, ditindas, terbelakang, tidak bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Hal ini karena umat ini perlu terus berbenah diri meningkatkan kualitasnya agar ke depan umat Islam di Indonesia benar-benar memiliki full power menjadi masyarakat yang mandiri, berdikari, yang memiliki peradaban tinggi serta menjadi pemimpin di antara negara-negara kecil atau besar di dunia.
            Ada tiga pilar sedikitnya yang harus ditegakkan agar umat Islam ini bangkit dari keterpurukan yang ada selama ini yakni dengan mengkualitaskan spiritualitas, ilmu dan persatuan kesatuan di antara sesama muslim. Bercermin pada negara Cina dan Jepang sebagai negara tetangga Indonesia, kedua negara tersebut menjadi negara yang diperhitungkan oleh negara-negara Barat. Kehebatan dan kebesaran dua negara tersebut di sebut-sebut karena memiliki ajaran spiritual yang menyebabnya masyarakatnya bangkit dan memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Di Cina ada ajaran Taoisme dan di Jepang ada Budhisme Zen.
Kalau Cina dan Jepang saja dengan ajaran spiritual yang dimiliki itu mampu mempengaruhi masyarakatnya untuk bangkit bersaing dan menjadi disegani negara-negara di dunia, seharusnya umat Islam lebih dari itu. Hal ini karena umat Islam ini mempunyai ajaran spiritual jauh lebih hebat yang dibawa oleh rasulullah Muhammad Saw. Michail A. Heart dalam buku yang ditulisnya tentang seratus tokoh hebat di dunia, Nabi Muhammad ternyata ditetapkan sebagai tokoh yang paling hemat nomor wahid mengungguli Nabi Isa dan para ilmuan di dunia seperti Plato, Newton, Enstin, dan lainnya. Kehebatan dan kesuksesan beliau dalam kepemimpinan, berkarya, mewujudkan revolusi, reformasi, inovasi dan masyarakat madani berperadaban tinggi yang sampai saat ini pengaruhnya dirasakan seluruh masyarakat dunia, sesungguhnya tidak lepas dari dimensi spiritual yang ada dalam diri beliau. Muhammad Saw meraih hasil luar  biasa itu melalui sebab yang  tidak  bisa lepas dari keberadaan dan praktek spiritualitas. (John Clark Archer B.D: 2007).
Kalaulah umat ini benar-benar spiritualis sejati, maka ia akan menjadi dekat dengan Tuhannya. Kedekatan dengan Allah ini menyebabkan dalam dirinya mengalir Nur Allah (energi-Nya). Energi ini akan menggerakkan umat menjadi bangkit dan beraktivitas positif serta terus berkarya (Ronda Byrne: 2008). Namun bila umat ini telah melakukan spiritualitas tetapi justru dirinya tetap menjadi terbelakang tanpa ada perubahan yang berarti maka spiritualitas yang dilakukannya tentu ada yang salah, masih bersifat ritualitas belaka dan belum menyentuh esensi dari ibadahnya.
Selanjutnya kalau kita masih mau bercermin dari dua negaara Cina dan Jepang, ternyata kedua negara tersebut menjadi hebat dan terung bangkit dari keterpurukan karena keduanya sangat konsisten terhadap kualitas keilmuan. Hal ini sampai Nabi Saw sendiri berseru agar umat Islam tak segan-segan menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Kita mungkin bisa juga melihat bagaimana dalam hal perhatian Jepang terhadap keilmuan. Berangkat dari perhatian terhadap kualitas keilmuan ini Jepang hanya dalam waktu tiga puluh tahun kembali bangkit dari keterpurukan dan diperhitungkan negara-negara di dunia. Pada tahun 1945 setelah negara ini dibombardir Sekutu, maka Perdana Menteri Jepang berteriak keras, yang dicari justru bukan tentaranya yang masih hidup berapa tetapi para gurunya atau orang yang berilmu. Namu sebaliknya Indonesia yang baru merdeka dari keterpurukan pada tahun yang sama hingga saat ini ternyata masih sangat jauh tertinggal dengan Jepang.
Pilar yang ketiga yang harus ditegakkan umat ini agar bangkit dari keterpurukan, yakni dengan membangun muslim human relation. Persoalan ini sangat penting sekali karena kalau tidak umat ini akan terus carut marut, terus berseteru dan tidak bisa menghargai antara satu dan yang lainnya, merasa paling benar dan hebat sehingga yang terjadi perpecahan, dan menyebabkan lemah, mudah tertindas, dan termarjinalkan. Untuk mengakhiri urain ini tidak ada salahnya kalau kita merenungkan dan mengambil spirit dari firman Allah,
Artinhya:”...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman (spiritualis) di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. al-Mujaadilah (58): 11).

Artinya:”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, ...” (Qs. Ali Imran (3): 103)

Artinya: ”Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat’. (Qs. Ali Imran (3): 105)

Bertitik tolak dari keterangan ini maka sudah saatnya umat Islam untuk saat ini membangun tiga pilar dalam kehidupannya baik sebagai makhluk individu, sosial, religius ataupun berbangsa dan bernegara Indonesia. Kita tidak cukup hanya membanggakan kuantitas umat ini, jauh dari itu dan tak kalah pentingnya umat ini harus terus menjaga dan meningkatkan kualitasnya baik kualitas akan keimanan (spiritul)-nya, keilmuannya (pendidikan) dan persatuan kesatuannya. Saat ini, esok dan yang akan datang umat ini harus terus bangkit menuju masyarakat madani, berperadaban tinggi, adil makmur, sejahtera, toto tentrem kerto raharjo. Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Amim.


Penulis: Dr. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, MM
Dosen STAI Al-Khoziny Sidoarjo



0 komentar:

Poskan Komentar