Selasa, 22 Januari 2013

Kepemimpinan Sukses Berbasis Spiritualitas (Dr. KH. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M)


Persoalan yang menyangkut spiritualitas, sesungguhnya dapat dijumpai dalam semua agama, tak terkecuali dalam Islam. Sedang pada penganut agama selain Islam secara empirik dalam penelitian tesis terbukti mereka juga melakukannya. (Djoko Hartono: 2004). Spiritualitas ini ternyata tidak saja dilakukan di lingkungan organisasi/perusahaan manufaktur Wibisono (2002), dalam perusahaan jasa seperti di lembaga pendidikan upaya melakukan spiritualitas ternyata menjadi paradigma yang dikembangkan oleh pemimpin organisasi tersebut baik mereka yang beragama Islam ataupun selain Islam. Kenyataan ini menjadi temuan yang dilakukan penulis ketika melakukan penelitian tesis untuk studi S2. Namun penelitian disertasi yang dilakukan Wibisono tersebut berkaitan dengan spiritualitas Islam dan pengaruhnya terhadap kinerja para karyawan sedang pada penelitian tesis penulis berkaitan dengan spiritualitas secara umum (tidak hanya Islam), pengaruhnya terhadap keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah.
Ada tiga paradigma yang berbeda dari kedua penelitian tersebut yakni variabel penelitian dan objek serta hasil temuannya. Apa yang dilakukan Wibisono variabel independennya spiritualitas Islam dan variabel dependennya kinerja karyawan serta objeknya perusahaan manufaktur. Adapun pada tesis penulis variabel independennya spiritualitas secara umum (tidak hanya Islam), variabel dependennya para kepala sekolah dan objeknya institusi pendidikan umum. Untuk temuan Wibisono, motivasi spiritual (doa, salat lima waktu dan puasa ramadan) berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan sedang dalam temuan dalam tesis penulis waktu itu motivasi spiritual (umum) berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan kepemimpinan.
Bertitik tolak dari keduanya penulis melakukan penelitian disertasi yang berbeda dari penelitian sebelumnya seperti di atas. Meskipun variabel independennya sama-sama spiritualitas namun memiliki perbedaan yakni spritualitas Islam yang menyangkut salat tahajud, salat duha, salat hajat, puasa Senin Kamis dan variabel dependennya keberhasilan kepemimpinan dengan objek para kepala SMP Islam favorit di Surabaya yang berjumlah tiga puluh orang. Adapun penetapan favorit ini peneliti dasarkan pada banyaknya jumlah siswa minimal 250 siswa ke atas. Hal ini sesuai teori yang dikemukakan Aan Komariah dan Cepi Triatna (2008:29) bahwa sekolah yang dicari, tidak pernah sepi pengunjung, tidak kehilangan pelanggan bisa dikata sebagai sekolah favorit. Untuk variabel dependen, indikator keberhasilan kepemimpinan itu terdiri dua hal yakni pertama, apa yang telah dicapai oleh organisasi (organizational  achievement) dan kedua, pembinaan terhadap organisasi (organizational maintenance) (Abdul Azis Wahab: 2008). Pada organizational  achievement menyangkut: Produksi sekolah (jumlah siswa) meningkat, Produk berkualitas (siswa lulus ujian nasional), Keuntungan dana meningkat, Program inovatif terwujud sedang pada organizational maintenance menyangkut: Bawahan puas (tidak protes dengan gaji/honor), Bawahan termotivasi (melakukan kebijakan yang ada), Bawahan semangat bekerja (disiplin waktu).
Ada tiga Profesor yang menjadi promotor/pembimbing dalam penelitian ini, yakni Prof. Dr. H. M. Sholeh, M.Pd. (pakar tahajud), PNI, Prof. Dr. H. Ali Haidar, M.A. (pakar fiqih politik Islam) dan Prof. Dr. Moeheriono, M.Si (pakar manajemen sumberdaya manusia). Penelitian ini diarahkan pada suatu tujuan untuk mengetahui spiritualitas yang menyangkut  salat tahajud, duha, hajat, dan puasa Senin Kamis, dan keberhasilan kepemimpinan para kepala SMP Islam favorit di Surabaya saat ini serta besarnya pengaruh spiritualitas terhadap keberhasilan kepemimpinan.
Adapun temuan-temuan dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, para kepala SMP Islam favorit di Surabaya ternyata melakukan upaya spiritualitas. Hal itu terbukti dengan adanya perbedaan intensitas spiritualitas Islam antara sebelum dengan ketika menjadi kepala sekolah. Ketika menjabat, spiritualitas kepala SMP Islam favorit di Surabaya lebih baik daripada sebelum menjabat. Hal ini terbukti, dari 30 kepala sekolah sebelum menjabat kebanyakan mereka telah melakukan spiritualitas (salat tahajud, dan puasa Senin Kamis) pada intensitas sering dan (salat duha dan salat hajat) pada intensitas sebagian sering, sebagian kadang-kadang. Namun ketika menjabat pada semua spiritualitas (salat tahajud, salat duha, salat hajat dan puasa Senin Kamis) yang dilakukannya, kebanyakan responden melakukan pada intensitas sering.
Ketika menjabat sebagai kepala sekolah, dalam melakukan upaya spiritualitas ini dari 30 respoden yang ada, ternyata ada 25% yang meningkatkan intensitasnya, dan ada pula yang melakukan spiritualitas dengan istiqamah, mereka ada 63% dan hanya ada 12% yang mengalami penurunan intensitas. Mereka yang melakukan peningkatan intensitas karena memiliki motivasi ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dan agar senantiasa menerima bantuan dan pertolongan dari Allah. Mereka yang melakukan dengan istiqamah karena beribadah dengan istiqamah merupakan perintah agama dan dengannya Allah memberi bimbingan dalam menjalankan kepemimpinan sehingga meraih kesuksesan. Sedangkan mereka yang mengalami penurunan intensitas spiritualitas disebabkan karena telah merasa mendapatkan yang diharapkan, capek dan lelah akibat banyaknya pekerjaan dan tanggung jawab keseharian sebagai kepala sekolah sehingga mereka sering meninggalkan spiritualitas yang sebelumnya dilakukan.
Dalam melakukan spiritualitas di atas, para kepala SMP Islam favorit di Surabaya kebanyakan (53%) karena  mencari rida Allah dan sisinya (47%) melakukannya selain karena Allah juga berharap kesuksesan. Mereka yang melakukan hanya mencari rida Allah karena merupakan dorongan dari dalam diri untuk memenuhi kebutuhan agar bisa lebih dekat, memperoleh hubungan langsung, berkomunikasi serta berdialog dengan Allah. Sedang mereka yang melakukan karena Allah dan juga berharap sukses disebabkan mengharap sesuatu kepada Allah merupakan perintah Allah sendiri sehingga Allah memenuhi kebutuhan dan cita-citanya.
Kedua, secara empirik dari hasil penelitian ini ditemukan, ternyata di SMP Islam favorit Surabaya jumlah siswanya mengalami peningkatan (ada 23 sekolah) 76,7%, para siswanya lulus dalam ujian nasional baik lulus langsung atau harus melalui ujian ulang (ada 25 sekolah / 83,3%), keuntungan dana mengalami peningkatan (ada 23 sekolah / 76,7%), kebanyakan program-program inovasinya terwujud (ada 25 sekolah / 83,3%), dan semua bawahan puas dengan gaji (ada 23 sekolah / 76,7%), kebanyakan bawahan tidak protes dengan kebijakan yang dibuat (ada 18 sekolah / 60%), kebanyakan bawahan datang sebelum jam kerja dimulai dan pulang setelah tanggung jawab harian selesai (ada 17 sekolah / 56,7%).
Ini merupakan petunjuk bahwa para Kepala SMP Islam favorit yang ada sesungguhnya berhasil baik dalam menjalankan kepemimpinannya. Adapun keberhasilan kepemimpinan yang lebih besar terletak pada apa yang diperoleh dari organisasi (organizational achievement) daripada organizational maintenance. Hal ini terbukti kebanyakan responden menjawab empat indikator milik organizational  achievement pada poin (b). Sedang pada organizational maintenance yang memiliki tiga indikator kebanyakan responden hanya menjawab dua indikator saja pada poin (b).
Ketiga, spiritualitas yang dilakukan para kepala SMP Islam favorit Surabaya ternyata berpengaruh positif terhadap keberhasilan kepemimpinan. Mereka yang melakukan spiritualitas dengan istiqamah dan terus meningkatkan intensitasnya secara empirik ternyata lebih berhasil dalam kepemimpinan, daripada yang mengalami penurunan intensitas. 
Hal ini sangat beralasan karena dengan istiqamah dan terus meningkatkan intensitas dalam melakukan spiritualitas, mereka menjadi lebih dekat dengan Allah. Kedekatan dengan Allah ini membuat mereka senantiasa merasakan ketenangan hati dan kejernihan dalam berpikir. Keadaan personal yang kondusif ini membuat mereka ketika bertutur kata menjadi mantap, berbobot, ketika beraktivitas menjadi terarah dan penuh keoptimisan, serta memunculkan sikap perilaku yang menyenangkan semua pihak. Sehingga para bawahan tidak terasa terpengaruh untuk bersama-sama bergerak dan beraktivitas mewujudkan keberhasilan organisasi yang dipimpin.
Demikian pula para kepala sekolah yang dalam melaksanakan spiritualitas di samping mencari rida Allah juga berharap sukses, ternyata mengalami keberhasilan kepemimpinan lebih baik dari pada yang melakukan dengan hanya mencari rido Allah saja. Hal ini sangat beralasan, karena mereka yang melakukan spiritualitas di samping mencari rida Allah, juga berharap sukses ini, ternyata memiliki nilai tambah (plus). Nilai tambahnya yakni meraka juga melakukan perintah Allah untuk berdo’a dan berharap kepada-Nya. Harapan dan do’anya ini tentu akan diwujudkan Allah sesuai dengan janji-Nya.
Harapan dan do’a ini menimbulkan sikap optimis dan motivasi dalam diri. Sehingga dari sini maka bisa dilihat bahwa mereka yang berharap kepada Allah tampak lebih optimis dan memiliki motivasi lebih besar daripada yang tidak berharap. Keoptimisan dan motivasi yang lebih besar ini menjadi sebab mereka bangkit dan tergerak melangkah dengan mantap, terarah untuk meraih serta mewujudkan kesuksesan kepemimpinannya. Inilah cara Allah mewujudkan harapan dan do’a mereka seperti yang dijanjikan kepada hamba-Nya jika berharap dan berdo’a kepada-Nya.
Selanjutnya diketahui pula setelah diuji dengan teknik analisis chi kuadrat dan nilai koefisien kontingensi yang ada dibandingkan dengan C maks dengan program SPSS 15.0.maka spiritualitas (salat tahajud, salat duha, salat hajat, puasa Senin Kamis) ternyata berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan kepemimpinan dengan keeratan pengaruhnya rata-rata sebesar 72,73%.
Selain itu alasan diterimanya hipotesis itu adalah jika dilihat dari 4 spiritualitas masing-masing harus mempengaruhi 7 indikator keberhasilan kepemimpinan maka spiritualitas harus mempengaruhi 28 indikator yang ada, sedang dari 28 indikator yang harus dipengaruhi, ternyata yang tidak berpengaruh hanya ada 5 (17,9%) indikator saja dan sisinya ada 23 (82,1%) indikator yang dapat dipengaruhi spiritualitas.
Untuk itu hipotesis yang berbunyi bahwa spiritualitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan kepemimpinan para kepala SMP Islam favorit di Surabaya diterima, kecuali pada beberapa indikator keberhasilan kepemimpinan, salat duha, salat hajat, dan puasa Senin Kamis pengaruhnya terhadap kepuasan gaji yang diterima para bawahan rendah (tidak berpengaruh) dan salat duha pengaruhnya terhadap kebijakan yang diterima bawahan rendah (tidak berpengaruh), salat hajat pengaruhnya terhadap disiplin kerja juga rendah (tidak berpengaruh).
Rendahnya (tidak adanya) pengaruh tersebut karena ada faktor lain yang mempengaruhinya yakni eksternal. Faktor eksternal ini di antaranya kebijakan yayasan/pemerintah bagi PNS DPK dalam menetapkan gaji dan yayasan telah menempatkan para guru, karyawan pada sekolah tersebut sesuai dengan kebutuhan, dan tingkat kompetensinya. Faktor eksternal ini, disebut variabel pengganggu (distorter variable). Hal ini karena keberadaannya dapat menyebabkan pengaruh variabel independen terhadap sebagian indikator keberhasilan kepemimpinan di atas menjadi mengecil.
Adapun faktor internal yang turut mempengaruhi rendahnya pengaruh di atas yakni tingkat emosional, kekhusyukan, keikhlasan, keistiqamahan, atau peningkatan dan pengharapan sukses para kepala sekolah ketika melakukan spiritualitas. Faktor internal ini sesungguhnya menjadi variabel antara (intervening variable). Hal ini karena apabila variabel tersebut dimasukkan, hubungan statistik yang semula nampak antara dua variabel menjadi lemah atau bahkan lenyap.
Implikasi Teoritik
Hasil temuan dalam penelitian ini jika dikaitkan dengan teori dan temuan sebelumnya maka mengandung implikasi mendukung, mengembangkan dan menolak bahkan menjadi temuan baru khususnya dalam hal spiritualitas Islam dan kepemimpinan di institusi pendidkan Islam. Dengan ditemukan bahwa spiritualitas (salat tahajud, duha, hajat dan puasa Senin Kamis) berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan kepemimpinan maka mengandung implikasi sebagai berikut.
Hasil penelitian ini mendukung teorinya Gay Hendricks dan Kate Goodeman (2001) yang mengatakan bahwa pada pasar global nanti akan ditemukan orang-orang suci, mistikus atau sufi di dalam perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern bukan hanya di tempat-tempat ibadah saja. Mendukung teorinya Paul Stange pakar mistisisme dari Murdoch University Australia yang mengatakan, bahwa “unsur spiritual benar-benar mewarnai kesuksesan para pemimpin Indonesia dalam menjalankan kekuasaannya.” Temuan ini juga mendukung teori William James (2003), seorang pakar mistisisme yang mengatakan bahwa: “…pengalaman spiritual merupakan satu-satunya gerbang menuju kehidupan yang lebih bahagia.” Sedang bagi para kepala sekolah akan menjadi bahagia jika berhasil dalam kepimimpinannya.
Ruslan Abdulgani seperti yang dikutib Nanang Fattah (2004), juga mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan dalam proses kepemimpinan yakni mempunyai kelebihan dalam hal menggunakan pikiran, rohani (spiritualitas), jasmani. Simuh (2003) mengemukakan bahwa tidak hanya rakyat kecil dan masyarakat pedesaan saja, mereka yang hidup di metropolis, bisnismen bahkan pejabat seringkali melakukan upaya spiritualitas. Misalnya ketika pemilihan lurah, bupati/walikota, gubernur, bahkan presiden hingga ketika memimpin dan menduduki jabatan mereka tidak bisa lepas dari upaya ini demi kesuksesan pekerjaannya.
Temuan dalam penelitian ini juga mengembangkan temuan-temuan lain yang telah ada, seperti temuan: Moh. Sholeh (2000) dari sisi medis bahwa salat tahajud ternyata berpengaruh terhadap peningkatan respons ketahanan tubuh imunologik. Wibisono (2002) membuktikan dari hasil penelitiannya bahwa motivasi spiritual (aqidah dan muamalat) berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Muafi (2003) membuktikan bahwa motivasi spiritualitas (aqidah, ibadah, muamalah) berpengaruh positif terhadap kinerja. Tobroni (2005) dari hasil penelitiannya menemukan, bahwa kepemimpinan spiritual dapat menciptakan noble industry yang efektif, yakni budaya organisasi yang kondusif, proses organisasi yang efektif dan inovasi-inovasi dalam organisasi. Kepemimpinan spiritual terbukti dapat mengembangkan organisasi. Fred. R. David (2002) dari sisi manajemen mengemukakan bahwa para spiritualis yang mempunyai pengalaman yang bersifat metafisik, akan memiliki kekuatan yang lembut untuk menggerakkan aktivitas menuju kesuksesan. Popper dari sisi filsafat seperti yang dikutib Berten (2003) mengemukakan bahwa “pengalaman spiritualitas yang bersifat metafisika bukan saja dapat bermakna, tetapi dapat benar juga, walaupun baru menjadi ilmiah kalau sudah teruji dan dites (falsifiabilitas). Temuan dalam penelitian ini setelah diuji dengan metode ilmiah maka ternyata spiritualitas berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan yang kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan.
Temuan dalam penelitian ini juga menolak temuan dan teori yang dikemukakan oleh Wibisono (2002), walaupun tidak berkaitan dengan kepemimpinan hasil temuannya secara realita empirik menyatakan bahwa motivasi spiritual ternyata berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan. Ini memiliki implikasi, apabila motivasi spiritual (salat lima waktu, puasa ramadan) karyawan meningkat, maka kinerja mereka akan menurun. Penolakan terhadap temuan Wibisono ini karena spiritualitas berpengaruh positif pada keberhasilan kepemimpinan yang ada. Sedang Wibisono, motivasi spiritual ternyata berpengaruh negatif tetapi pada kinerja karyawan dan bukan pada kepemimpinan. C. Stephen Evans (1982), juga menyatakan bahwa pengalaman spiritualitas ini kurang bisa diuji secara publik/intersubjektif. Penolakan terhadap teori ini karena spiritualitas ternyata dapat diuji secara publik yang hasilnya berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan. Simuh (2003) yang menyatakan bahwa spiritualitas keberadaannya akan menjadi penghambat kemajuan dan menimbulkan kemunduran selama berabad-abad. Namun dari hasil penelitian ini bukan menimbulkan kemunduran tapi justru kemajuan karena membawa kepemimpinan menjadi sukses.

Penulis: Dr. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M



0 komentar:

Poskan Komentar